Menjaga Nafas Pertanian: Kisah Petani Desa Cibeber Merawat Sawah dan Tradisi

Menjaga Nafas Pertanian: Kisah Petani Desa Cibeber Merawat Sawah dan Tradisi

Cikalong, Tasikmalaya — Sejauh mata memandang, hamparan hijau tanaman padi mendominasi pemandangan Desa Cibeber, Kecamatan Cikalong. Mayoritas masyarakat desa ini menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Tanah Cibeber yang subur dan dialiri air pegunungan yang melimpah menjadikannya salah satu lumbung pangan lokal yang diandalkan di wilayah Tasikmalaya Selatan.

Menjadi petani di era modern tentu bukan perkara mudah. Para petani di Desa Cibeber kerap dihadapkan pada tantangan perubahan cuaca yang tidak menentu, fluktuasi harga gabah, hingga ancaman hama tanaman. Namun, alih-alih menyerah, para petani di sini memiliki formula khusus untuk bertahan: mengombinasikan teknologi pertanian modern dengan kearifan lokal.

Dalam pengelolaan air, misalnya, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Desa Cibeber menerapkan sistem pembagian air yang adil dan transparan. Ketika musim tanam tiba, mereka akan duduk bersama untuk menentukan jadwal aliran air agar seluruh petak sawah, baik yang berada di hulu maupun hilir, mendapatkan jatah yang merata.

Selain itu, tradisi syukuran sebelum menanam padi (mapag sri) atau setelah panen masih dijaga sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta sekaligus ajang silaturahmi antarpetani.

“Bertani bukan sekadar mencari uang, ini adalah cara kami merawat bumi. Selama tanah di Cibeber ini kita jaga dengan baik secara organik, tanah ini akan terus menghidupi anak cucu kami,” ungkap Ketua Kelompok Tani setempat.

Semangat juang para petani Desa Cibeber ini menjadi pengingat penting akan besarnya kontribusi orang-orang desa dalam menjaga isi piring masyarakat di perkotaan tetap terpenuhi setiap harinya.