Cikalong, Tasikmalaya — Pohon-pohon kelapa yang tumbuh subur menjulang tinggi di sepanjang cakrawala Desa Cibeber, Kecamatan Cikalong, bukan sekadar pemanis pemandangan. Bagi sebagian besar warga desa, pohon tersebut adalah urat nadi perekonomian. Dari tetesan nira kelapa inilah, para perajin lokal di Desa Cibeber memproduksi gula kelapa tradisional (gula merah) yang manis dan legit.
Tradisi membuat gula kelapa di Desa Cibeber telah diwariskan secara turun-temurun. Setiap pagi dan sore, para penderes nira dengan cekatan memanjat pohon kelapa tanpa rasa takut. Nira yang terkumpul kemudian dimasak menggunakan tungku kayu bakar tradisional selama berjam-jam hingga mengental, sebelum akhirnya dicetak menggunakan bambu atau tempurung kelapa.
Namun, ada yang berbeda dengan geliat UMKM di Desa Cibeber belakangan ini. Jika dahulu para petani hanya menjual gula kelapa dalam bentuk ganduan besar ke bandar dengan harga murah, kini inovasi mulai menyentuh desa ini. Beberapa kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat mulai melirik pengolahan gula semut (gula kristal).
Gula semut dinilai lebih praktis, memiliki daya simpan yang lebih lama, dan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasar modern.
“Kami ingin mengangkat derajat gula kelapa Cibeber. Dengan mengubahnya menjadi gula semut dan mengemasnya secara higienis, produk kami sekarang bisa masuk ke toko oleh-oleh dan kafe-kafe di pusat kota Tasikmalaya,” ungkap seorang pelaku UMKM perempuan di Cibeber.
Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah regenerasi penderes nira yang mulai langka di kalangan pemuda, serta modernisasi alat produksi agar kapasitasnya bisa memenuhi permintaan pasar yang terus melonjak.
Melalui dukungan pemerintah desa dalam bentuk pelatihan pengemasan (packaging) dan pemasaran digital, Gula Kelapa Desa Cibeber kini perlahan tapi pasti mulai naik kelas, menjadi produk unggulan yang menggerakkan roda ekonomi dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat desa.






