Cikalong, Tasikmalaya — Di tengah gempuran era digital dan modernisasi yang cenderung membuat masyarakat menjadi lebih individualis, Desa Cibeber di Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, justru memperlihatkan pemandangan yang sebaliknya. Nilai-nilai luhur kepribadian bangsa, khususnya budaya gotong royong, masih tertanam kuat dan dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari warga desa.
Hal ini terlihat jelas ketika salah satu warga dusun hendak membangun atau memperbaiki rumah. Tanpa perlu dikomando secara formal, puluhan tetangga akan datang berbondong-bondong membawa peralatan mereka sendiri. Kaum pria berbagi tugas: ada yang mengaduk semen, menaikkan genteng, hingga mendirikan tiang pondasi. Sementara itu, kaum perempuan sibuk di dapur umum menyiapkan kopi, teh hangat, dan makanan ringan untuk para pekerja.
Semua interaksi tersebut dilakukan secara sukarela, tanpa ada upah sepeser pun. Sistem kalangon atau saling bantu ini didasarkan pada prinsip: “Hari ini saya bantu Anda, esok atau lusa ketika saya butuh bantuan, Anda dan warga lain akan bantu saya.”
Selain dalam pembangunan rumah, budaya gotong royong di Desa Cibeber juga rutin terlihat dalam kegiatan jumat bersih (jumsih). Setiap beberapa minggu sekali, warga bahu-membahu membersihkan saluran irigasi sawah, membabat rumput liar di pinggir jalan desa, hingga merawat fasilitas umum seperti masjid dan pos ronda.
Kepala Desa Cibeber menegaskan bahwa modal sosial seperti inilah yang menjadi kekuatan utama dalam pembangunan desa. “Anggaran dari pemerintah tentu ada batasan dan aturannya, tetapi swadaya dan semangat gotong royong warga adalah mesin pembangunan yang tidak ada habisnya. Ini adalah warisan leluhur Sunda yang harus kita jaga setengah mati,” ujarnya.
Keharmonisan dan eratnya tali persaudaraan di Desa Cibeber menjadi bukti nyata bahwa kemajuan zaman tidak harus mengorbankan identitas budaya. Di Cibeber, kebersamaan adalah fondasi utama untuk melangkah menuju masa depan.






