Menolak Punah, Alunan Calung Sunda Masih Menggema di Desa Cibeber

Menolak Punah, Alunan Calung Sunda Masih Menggema di Desa Cibeber

Cikalong, Tasikmalaya — Di tengah kepungan tren musik modern dan penetrasi media sosial, suara bambu yang dipukul berirama konstan dan jenaka masih sering terdengar dari teras-teras rumah di Desa Cibeber, Kecamatan Cikalong. Masyarakat desa ini rupanya masih setia merawat salah satu kesenian tradisional Sunda yang legendaris: Calung.

Kesenian Calung di Desa Cibeber bukan sekadar hiburan usang, melainkan bagian dari identitas sosial masyarakat. Seni pertunjukan yang menggabungkan keahlian bermusik bambu dengan banyolan (komedi) khas Sunda ini selalu sukses menyedot perhatian ratusan warga setiap kali ditampilkan dalam acara hajatan pernikahan, khitanan, maupun perayaan hari besar desa.

Uniknya, regenerasi seniman calung di desa ini berjalan secara alami. Anak-anak sering kali belajar hanya dengan melihat dan meniru para senior mereka yang sedang berlatih di malam hari.

“Calung itu media komunikasi yang luar biasa. Melalui banyolan di sela-sela lagu, kami bisa menyisipkan pesan-pesan moral, nasihat agama, bahkan program-program pembangunan dari pemerintah desa agar lebih mudah diterima warga,” kata salah seorang seniman calung senior di Cibeber.

Semangat para seniman lokal di Desa Cibeber untuk terus memukul bilah-bilah bambu ini menjadi bukti nyata bahwa di sudut Tasikmalaya Selatan, cinta terhadap akar budaya bangsa belum luntur digerus zaman.